Tentang Penelitian Ini

Pertemuan Para Pemangku Kepentingan PINTAR di Jakarta, Indonesia, Oktober 2018

Apa itu Penelitian PINTAR?

PINTAR adalah penelitian yang berlangsung selama tiga tahun yang bertujuan untuk meningkatkan pemberian antibiotik secara rasional oleh penyedia obat swasta dan mengurangi ancaman resistensi antibiotik secara global.

Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar penyedia obat swasta (PDS) di Indonesia saat ini memberikan antibiotik oral kepada pasien tanpa resep dan tanpa memberikan informasi yang relevan dan akurat mengenai obat-obatan ini.

Dalam penelitian ini, para peneliti menganalisis bagaimana penyedia obatpenyedia obat-obatan swasta di Indonesia memberikan antibiotik dan bagaimana mereka berinteraksi dengan pelanggan. Berdasarkan analisis ini, akan dirancang intervensi komprehensif dengan tujuan meningkatkan praktik pemberian antibiotik yang tepat oleh PDS

Penelitian ini dimulai pada tahun 2018 oleh tim dari berbagai disiplin ilmu dari lima universitas dan institusi lain di Indonesia, Australia dan Inggris.

Mengapa penelitian ini penting?

Resistensi antimikroba (AMR) adalah salah satu ancaman kesehatan masyarakat paling mendesak di dunia. Di seluruh dunia, diperkirakan 700.000 orang meninggal karena infeksi yang resisten terhadap antibiotik setiap tahun (1).

Peningkatan penggunaan antibiotik yang pesat dan tidak terkontrol merupakan pendorong utama AMR (2, 3). Penggunaan antibiotik yang tidak tepat pada manusia dan hewan semakin mempercepat proses terjadinya AMR (4). Di Indonesia dan negara-negara lain di kawasan ini, sebagian besar orang membeli antibiotik di pelayanan swasta dan seringkali tanpa resep dokter. Namun demikian, sebagian besar strategi intervensi untuk meningkatkan penggunaan antibiotic secara rasional di negara-negara berkembang lebih banyak berfokus pada dokter di rumah sakit umum, dan tidak menarget penyedia obat di sektor swasta.

Contoh penyedia obat swasta adalah apotek, toko obat dan toko kelontong. Walaupun para penyedia ini merupakan sumber untuk mendapatkan obat yang mudah diakses dan terjangkau, (5), namun para penyedia obat swasta ini kurang diregulasi dan seringkali dikelola oleh orang yang tidak terlatih (6).

Dengan memahami praktik dan motivasi yang mempengaruhi penyedia obat swasta dalam penyediaan antibiotik, penelitian ini akan berkontribusi terhadap upaya menanggulangi AMR.

Apa tujuan dari penelitian ini?

Tujuan keseluruhan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan pemberian antibiotik secara rasional oleh penyedia obat swasta dan mengurangi ancaman resistensi antibiotik secara global. Tujuan khusus adalah untuk:

  1. Memahami konteks di mana PDS menjalankan usahanya, khususnya bagaimana berbagai faktor ekonomi dan sosial mempengaruhi praktik pemberian antibiotik dan kualitas pelayanan yang mereka berikan kepada masyarakat;
  2. Merancang dan mengevaluasi pengaruh dan efektifitas pembiayaan dari sebuah intervensi multi-faset untuk meningkatkan pemberian antibiotik yang tepat oleh PDS;
  3. Meningkatkan kapasitas dalam penelitian mengenai sistem kesehatan.

Di mana penelitian ini dilakukan?

Penelitian ini dilakukan di Indonesia, negara terbesar di kawasan Asia Tenggara. Dengan jumlah penduduk sekitar 260 juta orang, Indonesia memiliki peran besar dalam mengatasi penggunaan antibiotik yang tidak tepat dan mengurangi ancaman AMR.

Penelitian formatif dilaksanakan di dua lokasi yaitu Kota Bekasi di Jawa Barat dan Kabupaten Tabalong di Kalimantan Selatan. Lokasi tersebut menggambarkan wilayah geografis yang kontras (pedesaan dan perkotaan), keanekaragaman jenis penyedia obat swasta (apotek dan toko obat yang menjual obat-obatan) dan status sosial ekonomi.

Lokasi tempat evaluasi penelitian akan ditentukan setelah penelitian formatif selesai.

Tim peneliti dalam penelitian ini berasal dari berbagai institusi di seluruh dunia, sebagian besar di Indonesia, Australia, dan Inggris. Silakan kunjungi halaman Tim Kami untuk perincian lebih lanjut.

Apa langkah-langkah utama penelitian ini?

Penelitian ini menggunakan gabungan metode kualitatif dan kuantitatif dan akan terdiri dari empat fase

  1. Mengumpulkan data mengenai perilaku dan faktor yang mendorong pemberian antibiotik oleh penyedia obat swasta
  2. Merancang intervensi dengan pemangku kepentingan terkait, berdasarkan hasil penelitian formatif (fase 1).
  3. Menilai implementasi intervensi secara real-time, disertai pelaporan yang berkesinambungan kepada para pemangku kepentingan dan peningkatan terus menerus selama 20 bulan
  4. Mengembangkan rencana untuk memperluas intervensi secara nasional.

Apa hasil yang kami dapatkan sejauh ini?

Silakan kunjungi halaman Pembaruan dan Temuan untuk informasi lebih lanjut

Bagaimana hasil penelitian akan digunakan?

Tim PINTAR bekerjasama dengan Pemerintah Indonesia untuk mengembangkan strategi untuk meningkatkan penggunaan antibiotik secara rasional di sektor swasta.

Temuan kami akan dibagikan dengan Komite Penanggulangan Resistensi Antibiotik untuk mendukung pengembangan Rencana Aksi untuk AMR (Ketua Komite ini, Dr Harry Parathon, merupakan anggota tim peneliti PINTAR).

Bagaimana pandemi COVID-19 mempengaruhi penelitian ini?

Tim peneliti bekerja dengan seksama untuk memadukan pelatihan terbaik dan pembelajaran dari adanya pandemi ke dalam desain intervensi.

Selain itu, terlihat jelas bahwa pandemi COVID-19 dapat memperburuk masalah dari pengobatan mandiri yang tidak perlu dan menimbulkan penggunaan obat-obatan antimikroba yang tidak rasional.

Oleh karena itu, tim peneliti sedang mengerjakan sub-studi yang terdiri dari survei nasional terhadap semua komunitas apotek dan toko obat yang terdaftar di Indonesia. Survei ini bertujuan untuk mengeksplorasi pemahaman Penyedia Obat Swasta (PDS) tentang COVID-19, saran dan pengobatan yang diberikan kepada klien yang berhubungan dengan COVID-19 dan ekspekstasi klien. Kami juga mengidentifikasi tindakan cepat yang diambil untuk meningkatkan praktek manajemen COVID-19 oleh PDS.

Informasi lebih lanjut tentang sub-studi, silahkan baca di sini.

Singkatnya, penelitian ini penting untuk:

  • Memberikan masukan untuk pengembangan Rencana Aksi Nasional Indonesia untuk AMR dan memperkuat kemitraan publik / swasta dalam sistem kesehatan.
  • Menghindari dampak negatif dari layanan kesehatan yang berlebihan serta menghindari beban biaya yang besar bagi pasien dan sistem kesehatan akibat pembelian antibiotik yang tidak perlu.

Selain itu, kami berharap bahwa intervensi yang dihasilkan penelitian ini nantinya dapat diadaptasi untuk digunakan di sektor pertanian di mana penyedia obat-obatan swasta juga tersebar luas.

Referensi

  1. O’Neil J. Review on antimicrobial resistance. Tackling drug resistant infections globally: final report and recommendations.; 2016.
  2. World Health Organization. WHO Global Strategy for Containment of Antimicrobial Resistance.: World Health Organization; 2001.
  3. Leung E, Weil DE, Raviglione M, H. N. World health organization world health day antimicrobial resistance technical working group. The WHO policy package to combat antimicrobial resistance. . Bull World Health Organ. 2011;2011(89):390–2.
  4. World Health Organisation. Antibiotic resistance. World Health Organisation; 2018.
  5. Goodman C, Kachur SP, Abdulla S, Bloland P, Mills A. Drug shop regulation and malaria treatment in Tanzania–why do shops break the rules, and does it matter? Health Policy Plan. 2007;22(6):393-403.
  6. Chee G, Michael Borowitz, Barraclough A. Private Sector Health Care in Indonesia. Bethesda, MD: Abt Associates Inc.; 2009.

Tentang Penelitian Ini

PINTAR Newsletter

If you wish to receive updates on how the PINTAR Study is progressing, we invite you to subscribe to the PINTAR newsletter.

For more information, see also:
Share This Article
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp