Tanggap Pandemi Di Masa Depan Perlu Melibatkan Apotek Komunitas

Community pharmacy in Semarang, Indonesia
Community pharmacy in Semarang, Indonesia

Apotek komunitas memegang peranan penting dalam merespon kebutuhan masyarakat di masa pandemi. Namun, apotek komunitas perlu mengakses pedoman dan sarana pelindung diri yang lebih memadai. Demikian hasil penelitian terbaru di Indonesia.

PINTAR press release, 17 Maret 2022

Apotek komunitas dan toko obat swasta dapat membantu mengurangi beban fasilitas sistem kesehatan di saat pandemi melalui pemberian saran serta obat yang akurat dan tepat kepada pasien.

Untuk menjalankan fungsi tersebut secara efektif, pemerintah perlu meningkatkan upaya pelibatan apotek komunitas dalam upaya tanggap wabah/pandemi dan membekali mereka dengan pedoman yang tepat dan sarana seperti alat pelindung diri yang memadai.

Peneliti dari Australia, Indonesia, dan Inggris menganalisis pengetahuan dan praktik dari 4.716 apoteker dan tenaga teknis kefarmasian (TTK) di 34 provinsi di Indonesia, dengan sepertiga responden tinggal di Pulau Jawa. Hasil survei daring yang dilaksanakan pada bulan Juli hingga Agustus 2020 tersebut dipublikasikan di jurnal The Lancet Regional Health – Western Pacific.

“Kami menilai bahwa ketika apoteker dan TTK memiliki akses pada pedoman dan informasi yang tepat, banyak dari mereka berkeinginan untuk aktif dalam upaya penanggulangan wabah, misalnya dengan memberikan saran pada pelanggan, membagikan leaflet, dan ikut serta dalam kegiatan surveilans,” jelas dr. Yusuf Ari Mashuri dari Universitas Sebelas Maret, Surakarta, salah satu peneliti dalam survei ini. “Saran dari para pakar kesehatan sangat penting untuk menanggulangi adanya kesalahan informasi COVID-19 yang tersebar di media sosial.”

Penelitian ini mengungkap kerentanan dari proses distribusi alat kesehatan untuk pencegahan infeksi, seperti hand sanitizer dan alat pelindung diri (APD). Hal ini merupakan sebuah tantangan yang dialami oleh banyak negara berkembang di awal pandemi.

Apotek komunitas dan toko obat sebagai tujuan pertama masyarakat mendapatkan pengobatan

Apotek komunitas dan toko obat memainkan peran penting dalam melayani masyarakat karena sering menjadi tempat pertama yang dituju untuk mencari pengobatan, terutama di daerah dengan akses layanan kesehatan yang terbatas.

Banyak survei yang meneliti mengenai perilaku dan pengalaman para tenaga kerja kesehatan di sektor publik selama pandemi COVID-19, tetapi masih sedikit yang berfokus pada apoteker dan TTK yang bekerja di apotek komunitas dan toko obat.

“Penelitian kami menunjukkan betapa pentingnya apotek komunitas dan toko obat di garda depan layanan kesehatan dan tantangan yang mereka hadapi selama pandemi di Indonesia saat ini,” kata Profesor Tri Wibawa, dari Universitas Gadjah Mada, yang memimpin survei ini.

“Dan hasil penelitian kami berkontribusi penting bagi komunitas ilmiah. Survei kami merupakan salah satu survei terbesar pada apoteker dan TTK yang bekerja di apotek komunitas dan toko obat di Asia Tenggara selama pandemi COVID-19.”

Saat ini, apoteker dan TTK dituntut untuk berperan lebih aktif dalam merespon peningkatan resiko kesehatan di masyarakat yang semakin tinggi, termasuk dalam surveilans wabah, edukasi kesehatan, uji coba obat, pemberian vaksin, tes diagnostik, dan program untuk mendukung pasien patuh dalam pengobatan. Peran tersebut menjadi penting terutama ketika pelayanan kesehatan klinis yang sedang sangat terbebani, khususnya di negara dengan sumber daya kesehatan yang terbatas.

Apotek komunitas dan toko obat dalam usaha mencegah resistensi antibiotik

Hasil survei menunjukkan ada banyak penderita COVID-19 yang menggunakan antibiotik dengan mendatangi apotek komunitas dan toko obat di Indonesia. Masalah tersebut dapat meningkatkan ancaman resistensi antimikroba, karena antibiotik bukanlah obat yang efektif untuk virus.

Kurang lebih sepertiga responden menyebutkan bahwa mereka telah memberikan antibiotik kepada pasien yang diduga menderita COVID-19. TTK lebih sering melaporkan penjualan obat resep dokter termasuk antibiotik dibandingkan apoteker. Mereka memiliki wewenang dan terlatih dalam memberikan resep obat, untuk melaporkan penjualan obat dengan resep dokter termasuk antibiotik.

Saat ini terdapat sekitar 135.000 apotek komunitas dan toko obat berizin di Indonesia. Meskipun regulasi di Indonesia melarang penjualan antibiotik secara bebas, tetapi pemberian antibiotik tanpa resep merupakan hal yang umum terjadi. Penelitian menunjukkan adanya peningkatan penggunaan antibiotik yang tidak tepat oleh masyarakat selama pandemi COVID-19.

Profesor Virginia Wiseman, dari Kirby Institute di University of New South Wales (UNSW) Sydney dan London School of Hygiene and Tropical Medicine, yang juga memimpin survei, mengatakan,“Pandemi COVID-19 maupun peningkatan resistensi antimikroba yang berkelanjutan merupakan ancaman besar bagi kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, perlu adanya respon yang melibatkan seluruh sistem kesehatan.

“Di beberapa negara seperti Indonesia, apotek komunitas dan toko obat merupakan bagian penting dari sistem kesehatan sehingga kita harus memobilisasi mereka secara cepat. Berbagai peran yang diemban selama pandemi harus diintegrasikan dengan baik ke dalam penanganan pandemi secara nasional. Saat ini adalah waktu yang ideal bagi negara seperti Indonesia untuk mulai melakukan integrasi dari hal tersebut.”

Survei COVID-19 ini merupakan bagian dari PINTAR (Protecting Indonesia from the Threat of Antibiotic Resistance), sebuah penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan pemberian antibiotik secara bijak di masyarakat dan mencegah perluasan resistensi antimikroba.

Penelitian PINTAR dipimpin oleh Kirby Institute dari University of New South Wales (UNSW) Australia yang bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada, Universitas Sebelas Maret, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, London School of Hygiene & Tropical Medicine, University College London di Inggris, dan George Institute for Global Health di UNSW Sydney. Penelitian ini didukung oleh hibah dari Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Indo-Pasifik di bawah Inisiatif Keamanan Kesehatan Pemerintah Australia.

Baca hasil penelitian di The Lancet Regional Health – Western Pacific

Share This Article
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Leave a Comment

Author
Latest From Our Blog
Blog Categories
PINTAR Newsletter

If you wish to receive updates on how the PINTAR Study is progressing, we invite you to subscribe to the PINTAR newsletter.