Resistensi antibiotik (AMR)

Credit: Pietro Jeng, Pexels

Resistensi antibiotik (AMR) merupakan salah satu ancaman kesehatan masyarakat paling penting di dunia. Di seluruh dunia, setiap tahunnya lebih dari 700.000 orang meninggal karena infeksi yang resisten terhadap antibiotik (1, 2). Kejadian AMR di satu negara dapat menimbulkan ancaman keamanan kesehatan yang besar secara regional dan global, karena batas-batas negara tidak banyak menghambat penyebaran infeksi yang resisten terhadap antibiotik.

AMR didorong oleh penggunaan antibiotik yang pesat dan tidak terkontrol yang kemudian mengakibatkan morbiditas, mortalitas, dan timbulnya biaya yang signifikan terhadap sistem kesehatan maupun masyarakat di seluruh dunia. Bahkan, dari saat ini hingga tahun 2050, AMR telah menelan biaya ekonomi global senilai $ 100 triliun dollar (1, 2).

AMR di Indonesia

Menurut WHO, Asia Tenggara secara global memiliki risiko tertinggi untuk terjadinya dan tersebarnya AMR karena meluasnya penggunaan antibiotik dan sistem tata kelola yang lemah di bidang kesehatan dan pertanian (3, 4). Resistensi lintas perbatasan menjadi perhatian yang semakin meningkat di kawasan ini, di mana para wisatawan sehat ternyata menunjukkan hasil positif saat dilakukan tes untuk mikroba yang resisten obat (5).

Pada 2011, para menteri kesehatan di wilayah Asia Tenggara mengadopsi Deklarasi Jaipur tentang AMR yang menyerukan tindakan komprehensif terhadap penggunaan antibiotik yang tidak rasional (6). Baru-baru ini, deklarasi Berlin oleh para menteri kesehatan negara G20 pada bulan Mei 2017 mengakui meningkatnya ancaman AMR dan menguraikan berbagai langkah untuk mengatasinya (7). Negara-negara anggota kawasan ini termasuk Indonesia sedang mengimplementasikan rencana aksi nasional untuk mengatasi AMR (8).

Sebagai negara terbesar di Asia Tenggara dengan penduduk lebih dari 258 juta orang, Indonesia memiliki peran besar dalam mengatasi penggunaan antibiotik yang tidak tepat dan mengurangi ancaman AMR (9-11).

Peran sektor swasta

Pemberian antibiotik tanpa resep oleh penyedia obat swasta (PDS) merupakan pendorong utama terjadinya AMR di Indonesia dan di tempat lain di Asia Tenggara. Ada sekitar 134.520 PDS di Indonesia yang terdiri dari outlet resmi (28.671 apotek dan 10.849 toko obat) (12) dan toko tidak berlisensi (5.000 toko obat dan 90.000 toko kecil) (13). Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 90% apotek saat ini menjual antibiotik oral tanpa resep dokter (9). Terlepas dari besarnya peranan sektor swasta dalam sistem pelayanan kesehatan di Indonesia, masih sedikit hal yang diketahui tentang perilaku PDS dan bagaimana meningkatkan tata kelola di sektor ini. Tujuan dari penelitian PINTAR adalah untuk mengembangkan dan menguji strategi untuk meningkatkan praktik pemberian antibiotik secara rasional oleh PDS di Indonesia.

Referensi

  1. George A. International Security and Antimicrobial Resistance: Why Policy Coherence Matters. Australian Institute of International Affairs [Internet]. 2015. Available from: https://www.internationalaffairs.org.au/australianoutlook/international-security-and-antimicrobial-resistance-why-policy-coherence-matters/.
  2. Review on Antimicrobial Resistance. Tackling drug-resistant infections globally: Final report and recommendations. 2016.
  3. Chereau F, Opatowski L, Tourdjman M, Vong S. Risk assessment for antibiotic resistance in South East Asia. BMJ (Clinical research ed). 2017;358.
  4. Holloway KA, Kotwani A, Batmanabane G, Puri M, Tisocki K. Antibiotic use in South East Asia and policies to promote appropriate use: reports from country situational analyses. BMJ (Clinical research ed). 2017;358.
  5. Kennedy K, Collignon P. Colonisation with Escherichia coli resistant to “critically important” antibiotics: a high risk for international travellers. Eur J Clin Microbiol Infect Dis. 2010;29(12):1501-6.
  6. World Health Organization Regional Office for South-East Asia. Jaipur declaration on antimicrobial resistance. . 2011.
  7. G20 Health Ministers. Berlin Declaration of the G20 Health Ministers: Together Today for a Healthy Tomorrow. Germany2017.
  8. Khetrapal P. Speech of the Regional Director. Workshop on National Action Plan on Antimicrobial Resistance for Developing Countries: Focusing on Resistance Emanating from Antibiotic Use in Food Animals. New Delhi, India: 34th session of WHO South-East Asia Advisory Committee on Health Research, World Health Organization.; 2016.
  9. Puspitasari HP, Faturrohmah A, Hermansyah A. Do Indonesian community pharmacy workers respond to antibiotics requests appropriately? Trop Med Int Health. 2011;16(7):840-6.
  10. Chee G, Borowitz M, Barraclough A. Private Health Care Sector in Indonesia. Bethesda, MD: Abt Associates Inc; 2009.
  11. Management Sciences for Health. Managing Access to Medicines and Health Technologies. Arlington, VA: Management Sciences for Health; 2012.
  12. Indonesian Ministry of Health. Mapping of Pharmaceutical Facilities 2013 – 2018 (Aplikasi Pemetaan Sarana Kefarmasian 2013-2018) Jakarta2018 [Available from: http://apif.binfar.depkes.go.id/index.php?req=view_services&p=pemetaanIndustriFarmasi.
  13. World Bank. Pharmaceuticals : why reform is needed (English). Indonesia health sector review : policy and discussion notes. Washington, DC: World Bank; 2009.

Resistensi antibiotik (AMR)

PINTAR Newsletter

If you wish to receive updates on how the PINTAR Study is progressing, we invite you to subscribe to the PINTAR newsletter.

For more information, see also:
Share This Article
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp